Untuk Sementara, Saya Tidak Memiliki Massa, Jabatan, Uang, Kekuatan Untuk Melakukan Perubahan. Yang Saya Bisa Lakukan Sekarang Hanyalah Menyebarkan Ide dan Pemikiran

Kaderisasi itu penting + perubahan karakter dalam diri saya

Sudah lama ga ngisi Blog, sudah banyak perubahan yang terjadi dalam hidup dan diri saya. Karakter, kegiatan, dan lain-lain. Apa sih yang berubah dari dalam diri saya? Well mari kita bercerita tentang diri saya sebelum berubah. Saya yang masih lugu saat baru masuk Institut Teknologi Bandung.

Dulu saya orang yang bisa disebut apatis. Kurang peka terhadap lingkungan sekitar. Saya tidak peka dengan apa yang terjadi di Indonesia, dengan kemiskinan yang masih ada, dengan kondisi politik yang kotor, tingkat korupsi, kriminal, dan hal negatif lainnya. Saya tidak peduli dengan negara ini, negara dimana koruptor bebas berkeliaran sedangkan ibu-ibu tua yang ‘hanya’ mencuri semangka dipenjara 5 tahun, negara dimana ada anak kecil umur 2 tahun yang merokok sebungkus sehari, negara dimana ada pelajar yang tega membunuh orang tuanya sendiri karena tidak dibelikan motor, negara dimana ada bapak yang tega memperkosa anaknya sendiri, negara dimana seorang manusia sangat mudah membunuh manusia lain hanya karena Uang???!!!, negara dimana ada mahasiswa yang saling berkelahi dan mencoba saling membunuh (padahal satu universitas!!!!), negara dimana siaran televisinya masih banyak yang tidak mendidik!!!!!, negara dimana artis terkenal membuat video porno yang hampir ditonton semua warga negara (bahkan anak SD!!!!!), negara dimana isu video porno lebih banyak digemari, negara dimana gosip lebih disukai, negara yang bangga akan sifat konsumtifnya, negara yang kaya raya memiliki bentang alam yang luas, namun tetap saja, rakyatnya masih banyak menderita.

Sebuah negara yang ironis, sebuah negara yang tidak nyaman menurut saya. Saya berpikir, lebih baik saya keluar dari negara ini, saya berpikir lebih baik saya tinggal di negara lain, pindah kebangsaan. Saya harus belajar giat di ITB, dapat IPK bagus, kerja di perusahaan swasta asing, dapat uang banyak, pindah kewarganegaraan, dan tinggal disana. Mungkin dengan begitu saya dapat meraih kebahagiaan. Dibandingkan tinggal di negara yang ironis ini. Negara yang diperjuangkan oleh para pahlawan yang gagah berani, namun sekarang seperti disia-siakan.

Tetapi…..

Seiring berjalannya waktu saya mulai berubah. Mata saya mulai terbuka. Kaderisasi bertahap yang saya lalui merubah karakter saya. Mulai dari INKM KM ITB (Inisiasi Keluarga Mahasiswa), PLO STEI ITB (lupa euy kepanjangannya Professional Leadership Orientation kalo ga salah), MBC HME ITB (Masa Bina Cinta Himpunan Mahasiswa Elektroteknik), DAT KM ITB (Diklat Aktivis Terpusat), dan percaya atau tidak, saya mengalami proses kaderisasi saat mengikuti kuliah Teknik Tegangan Tinggi semester 5.

Perubahan karakter saya tidak instan. Terus terang, karena sifat yang apatis, saya merupakan peserta kaderisasi yang kurang baik. Saya hanya menyerap ilmu yang menurut saya bermanfaat saja. Saya persetan dengan nilai-nilai kebangsaan dan lain-lain sejenisnya, pusing mikirin Indonesia, terlalu banyak masalah. Saya apatis, tapi kenapa saya ikut kaderisasi? yah bisa dibilang karena saya ingin berorganisasi, karena menurut saya dengan berorganisasi saya akan mendapatkan banyak hal, teman, softskill dan lain-lain yang intinya saya hanya memikirkan kepentingan saya sendiri. Hal ini terjadi saat tahap INKM sampai MBC.

Lalu saya ikut DAT (Diklat Aktivis Terpusat). Loh? saya kan apatis? kok saya bisa-bisanya ikut DAT? Well, hal ini terjadi secara tidak sengaja. DAT merupakan acara dari Keluarga Mahasiswa ITB (kalo di universitas lain KM itu seperti BEM). DAT merupakan acara yang diperuntukkan untuk 4 perwakilan himpunan yang dianggap terbaik oleh himpunannya. Nah, Saat itu, HME mengutus 4 orang dari Kementrian Karakter: Imul, Pams, Linz, Fiks untuk mewakili HME. Nah, mentri saya, Totz (saya dulu ada di kementrian Apresiasi Anggota) meminta kahim Abdus untuk mewakilkan salah satu stafnya. Yak benar, entah kenapa beliau menyuruh saya untuk ikut DAT (Kayanya sih karena yang laen ditawarin kaga mau, akhirnya tawarin itu sampai ke saya). Saya sebenarnya malas untuk ikut, kan saya apatis. Tapi rasa keingintahuan saya membuat saya mengiyakan untuk ikut, secara gratis gitu loh, dan siapa tau aja makin banyak kenalan syukur-syukur ada yang cakep :p. Akhirnya 5 orang perwakilan himpunan mengikuti DAT.

Sesuai dengan dugaan saya, namanya aja Diklat Aktivis, di DAT ini saya dibombardir tentang materi kebangsaan, Nasionalisme, Propaganda, Realita Bangsa, dan banyak hal yang berbau aktivis. Gila!!!! Gak banget buat saya yang apatis waktu itu!!! Beuhhhh… Cuma disinilah perubahan itu mulai terjadi. Percaya atau tidak, ternyata saya sangat fokus memperhatikan materi. Ternyata disinilah saya menyadari… sebenarnya saya tidak apatis. Saya tau ada masalah di negara ini, saya memikirkannya, namun saya pura-pura tidak tahu. Saya berpikir lebih baik mencari aman… lebih baik saya mencari kebahagiaan untuk saya sendiri. Disinilah… saya mulai berpikir… apakah benar cara berpikir saya yang mencari aman?? saya masih perlu mencari jawabannya. Singkat kata DAT berakhir meninggalkan berbagai macam pikiran memenuhi otak saya… meninggalkan tanda tanya besar di hati saya… apakah benar cara berpikir saya?? apakah benar hidup saya Cuma mencari aman, mencari kebahagiaan untuk saya sendiri?? saya mulai berpikir….. mencari tujuan hidup saya sebenarnya.
Setelah DAT saya mulai sadar… saya mencoba kembali ke masa lalu… mulai dari masa INKM… saya mulai menyadari… arti dari Tri Dharma Perguruan Tinggi (Pendidikan, Penelitian, dan Pengabdian Masyarakat), PFP Mahasiswa (Peran, Fungsi, dan Posisi) Mahasiswa yang sebenarnya, saya memahami maknanya. Kalo dulu mungkin hanya sekedar tulisan yang saya baca dan saya lupakan. Kini saya menanam makna tersebut dalam-dalam di hati saya, sambil terus berpikir, mencari tujuan hidup saya..

Hari demi hari terus berlalu, saya yang dulu kurang peduli terhadap sekitar mulai membuka mata lebar-lebar. Saya menjadi lebih peka. Tetapi saya masih belum menemukan jawaban… saya masih berpikir… sulit… terlalu sulit untuk membuat negara ini menjadi lebih baik… lebih baik saya cari aman saja… (tapi lebih baik, saya sudah tidak berpikir untuk berpindah kewarganegaraan, saya ingin tinggal di negara ini, bagaimanapun ini negara tempat saya dilahirkan, namun saya tetap berpikir untuk mencari aman)

Semakin lama saya mulai menemukan jawabannya… puncaknya adalah saat kuliah tambahan Teknik Tegangan Tinggi saat hari Sabtu di gedung kuliah kerjasama PLN – ITB lantai dua, semester 5, tahun 2009. Dosen saya adalah Pak Djoko Darwanto. Saat itu, bukannya memberikan materi kuliah, Pak Djoko menjelaskan isu ketenagalistrikkan yang sedang booming saat itu, yaitu meledaknya trafo Cawang… lalu menyerempet ke tanggung jawab mahasiswa. Singkatnya…. saat itu beliau mengucapkan hal yang benar-benar menampar saya. Dia bertanya langsung kepada kami, mahasiswa 2007, “Kalian, Mahasiswa ITB, yang katanya adalah yang terbaik di seluruh Indonesia, bisa memilih, kalian mau kerja di perusahaan asing, dapat uang banyak, punya rumah, mobil, kaya, lalu mati begitu saja? atau mau bersusah payah, berkorban, membuat negara ini menjadi lebih baik?”. Sebuah pertanyaan yang sebenarnya sudah ada di pikiran saya sebelumnya. Baru kali ini saja saya ditanya oleh orang lain dengan pertanyaan yang sama, dan akhirnya, saya menemukan jawabannya…

Ya!, saya adalah salah satu dari seluruh mahasiswa terbaik bangsa yang bertanggung jawab kepada masyarakat. Saya lah penerus bangsa ini kelak, saya lah yang berkewajiban untuk membawa perubahan yang lebih baik untuk negara ini, saya lah penjaga nilai-nilai ideal dalam kehidupan masyarakat, bangsa dan negara. Selama ini saya berpikir sulit untuk merubah negara ini, tapi saya mencoba berpikir terbalik. Karena banyak orang yang berpikir (seperti saya) bahwa merubah negara ini sulit lah yang membuat hal tersebut menjadi semakin sulit terjadi.

Dan kini saya optimis, merubah negara ini tidak sulit, asalkan kita semua satu visi. Negara ini belum terlambat untuk berubah menjadi lebih baik. Untuk orang-orang yang berpikiran seperti saya, Saya hanya ingin bilang, kamu tidak sendirian!!! saya bersamamu!!

Isi postingannya mungkin aga-aga menyimpang dari judulnya ya, hahaha, tapi intinya sih Kaderisasi lah yang membuat saya seperti ini. Saya menyadari sepenuhnya tanggung jawab saya, saya menyadari peran, fungsi, dan posisi saya. Saya menemukan tujuan hidup saya.

Maaf kalo tulisannya aga-aga gimana gitu bahasanya, soalnya saya Cuma nulis apa yang muncul di otak saya aja.

Hidup Kaderisasi!!!

Pilih mana? Jadi Solusi? atau Hidup yang biasa-biasa saja? You choose

3 responses

  1. jay

    bangga punya sahabat sekligus saudara yang peduli sama bangsanya sendiri🙂

    maju terus Dimas!!
    lw magang di tangerang? main donk ke rumah gw😛

    July 10, 2010 at 9:59 am

    • Dimas Agil T

      Same like you brother.

      Sama2 Jay!!! Mari maju bersama2!!!!

      Iya gw di Cengkareng. Deket dari rumah lo kan? ayo mau banget gw maen. Kangennnn!

      July 10, 2010 at 2:51 pm

      • Dimas Agil T

        eh alamat blog lo apa jay?

        July 10, 2010 at 2:52 pm

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s