Untuk Sementara, Saya Tidak Memiliki Massa, Jabatan, Uang, Kekuatan Untuk Melakukan Perubahan. Yang Saya Bisa Lakukan Sekarang Hanyalah Menyebarkan Ide dan Pemikiran

Apa yang menyebabkan terjadinya pemadaman bergilir?

Mungkin akhir-akhir ini, kita merasakan sering terjadinya fenomena gaib..

Fenomena dimana, terjadinya mati listrik atau istilahnya adalah Blackout, karena terjadinya pemadaman bergilir.

dan ya, tentunya hal ini sangat mengganggu aktivitas kita yang sangat bergantung pada listrik.

Mulai dari kegiatan akademis, produksi manufaktur, nyampah di rumah, kosan, himpunan, dan lain sebagainya.

dan kita secara otomatis langsung menyalahkan PLN yang bertanggung jawab atas hal ini. Kita mengumpat, kita mencaci, dan lain sebagainya.

Disini saya akan berbagi pandangan netral, saya akan mencoba berbagi pengetahuan saya yang sedikit dengan menjelaskan secara singkat dan padat. Kenapa masih pemadaman bergilir?

Mungkin dengan mengetahui apa penyebabnya, kita bisa berpandangan lain.

Oke, Here We Go!

Pertama-tama saya ingin menjelaskan tentang Kurva Beban yang sudah dijelaskan pada notes saya sebelumnya

Kurva Beban sistem Jawa – Bali bisa dilihat pada situs http://www.pln-jawa-bali.co.id/

Kurva Beban Jawa-Bali

Sampel kurva beban yang saya ambil pada tanggal 23 Oktober 2010 Pukul 08.12

Kurva Beban ini menunjukkan apa sih? Beban sendiri adalah Daya dalam hal ini. Jadi Kurva Beban itu adalah kurva yang menunjukkan pemakaian daya pada sistem tenaga listrik jaringan Jawa-Bali di setiap waktu.

Kita lihat, bahwa kurva beban tidak datar, hal yang wajar karena pemakaian listrik di setiap waktu berbeda-beda. Ada pemakaian daya puncak lokal dan global. Kalo kita lihat puncak pemakaian daya terjadi pada pukul 18.00 – 21.00 WIB. Kenapa hayo? yak benar, di jam-jam itu, hampir semua penduduk Indonesia menyalakan lampu dan televisi.

Nah, untuk menyuplai kurva daya yang berubah-ubah, adalah tugas dari Pembangkit listrik. Seperti yang sudah dijelaskan notes sebelumnya, pembangkit listrik ada yang menyuplai beban dasar, dan beban puncak. Apa itu beban dasar, apa itu beban puncak, dapat dijelaskan oleh grafik berikut.

Kurva Biru adalah kurva beban, dan kurva merah adalah suplai beban dasar. Suplai beban dasar sudah diatur sedemikian rupa sehingga seefisien mungkin. Kenapa ga boleh asal-asalan? oke bisa dijelaskan dari luas kurva diatas dan dibawah kurva beban dasar.

A2 (Luas daerah bawah) itu merupakan rugi, kenapa? karena suplai daya yang dihasilkan lebih besar dibandingkan daya yang terpakai, sehingga terdapat daya yang terbuang percuma. Ini berbahaya untuk pembangkit, bisa terjadi kelebihan arus, dan panas. Oleh karena itu biasanya ada dumped load, tempat membuang daya yang lebih tersebut, tapi tentu saja menjadi rugi-rugi (karena tidak terpakai).

Oke sekarang kita lihat kurva di bagian atas suplai beban dasar. Bagaimana caranya menyuplai beban puncak yang melebihi suplai beban dasar tersebut? yak, jawabannya adalah dengan menggunakan generator Slack, yang biasanya adalah PLTA (waduk). Generator Slack berfungsi sebagai penyeimbang daya. Jadi daya yang dihasilkan bergantung dari kebutuhan beban. Hal ini disebabkan karena karakter PLTA yang dapat mengubah-ubah daya keluaran secara cepat. Sedangkan pembangkit-pembangkit seperti PLTU, PLTG dan sejenisnya tidak bisa mengubah output daya secara cepat, sehingga difungsikan untuk menyuplai beban dasar.

Bayangkan jika penentuan kurva beban dasar itu dilakukan asal-asalan. Jika terlalu tinggi, maka rugi-rugi akan membesar! jika terlalu rendah, maka generator slack (PLTA) bisa rusak! karena dipaksa mengeluarkan daya yang melebihi kapasitasnya.

Jadi pastinya PLN dalam menentukan suplai beban dasar ini secara profesional, bukan asal-asalan.

Kembali melihat kurva beban dari situs http://www.pln-jawa-bali.co.id/

kurva beban jawa-bali

ada dua kurva, merah dan biru. Merah itu yang aktual, Biru itu merupakan rencana, jadi merupakan prediksi dengan menggunakan probabilitas dan statistika berdasarkan data yang didapat dari hari-hari sebelumnya, maupun dari tahun-tahun sebelumnya. Dari prediksi inilah, suplai beban dasar ditentukan.

Sekarang baru kita sambungkan dengan apa yang menyebabkan terjadinya pemadaman bergilir.

Pemadaman bergilir terjadi dikarenakan, setelah didapat kurva beban rencana, ternyata pada hari itu, suplai daya yang tersedia (kapasitas pembangkit yang sedang online) secara keseluruhan diperkirakan tidak dapat menyuplainya. Sehingga dijadwalkan pemadaman bergilir dengan maksud mengurangi beban sehingga suplai daya cukup.

Nah, kenapa suplai daya tidak cukup?

Hal itu disebabkan karena ada suplai daya yang hilang. Hilang kemana? dicuri orang? ya tentu aja bukan, ada banyak faktor, tapi yang paling umum adalah:

Pembangkit itu perlu maintenance, ketika maintenance tentu saja tidak dinyalakan, disaat itulah sistem kehilangan suplai daya.

Atau dalam beberapa kasus, hal ini bisa disebabkan karena, jaringan transmisi terputus, sehingga pembangkit terpisah dari sistem.

Jadi itulah alasannya kenapa terjadi pemadaman bergilir. Suplai daya kita sebenarnya cukup, namun ketika terjadi maintenance beberapa pembangkit (ada suplai daya yang hilang), maka mau tidak mau harus dilaksanakan pemadaman bergilir. PLN bekerja secara profesional, bukan asal-asalan.

Apa kita mau listrik kita nyala terus, tapi hasilnya pembangkit-pembangkit meledak semua? GILA! bisa balik ke jaman batu.

Bisa ga sih hal ini diatasi?

Tentu saja bisa! suatu sistem memiliki kehandalan. Sistem dengan kehandalan baik adalah sistem yang memiliki suplai daya cadangan dengan besar yang sama dengan suplai yang digunakan. Ngerti maksudnya? jadi misalkan suatu gedung butuh konsumsi daya 700kW (misal). Nah si gedung ini harus punya suplai cadangan dengan besar daya yang sama (700kW) supaya handal. Jadi ketika listrik PLN mati, Suplai cadangan bisa dipakai untuk memenuhi kebutuhan daya gedung.

Makanya pemerintah mencanangkan program 2 x 10000MW. Hal ini bertujuan untuk itu, meningkatkan kehandalan sistem kelistrikkan dengan menambah suplai cadangan, sehingga diharapkan tidak terjadi pemadaman bergilir lagi.

soalnya ketika beberapa pembangkit sedang maintenance,suplai daya yang hilang tersebut, dapat dicover oleh suplai daya cadangan (pembangkit lainnya).

Namun benarkah ini merupakan jawaban dari semua kekesalan kita atas pemadaman bergilir?

Menurut saya jawabannya adalah tidak!

Seperti yang kita tahu, sifat manusia ga akan pernah puas. Dengan adanya penambahan daya, maka memang pasti tidak akan ada lagi pemadaman bergilir. Namun, dikarenakan di Indonesia listrik murah, masyarakat akan mengonsumsi dengan lebih gila-gilaan lagi, lebih boros. Sehingga dalam waktu beberapa tahun saja, mungkin suplai daya yang ada kembali tidak cukup dan kembali terjadi pemadaman bergilir.

Jadi mungkin jawabannya adalah, bukan dengan meningkatkan kapasitas pembangkit yang ada di Indonesia, tapi dengan mengurangi daya yang kita pakai!

Pak Pekik pada tulisannya “Kelistrikan Nasional: Masalah dan Solusinya” di http://konversi.wordpress.com/ menekankan hal ini. Selama kita masih bisa berhemat, maka berhematlah. Tapi penghematan bukan berarti pengurangan kenyamanan dan produktivitas. Beliau juga mengatakan, bahwa jika kita melakukan penghematan yang konsisten misal semua orang di Indonesia selalu mematikan lampu yang tak terpakai. Maka suplai daya yang ada sekarang seharusnya lebih dari cukup.

Apa sih susahnya berhemat? Inilah yang mungkin bisa kita tanyakan pada diri kita masing-masing. Mungkin karena lupa? atau kita tidak peduli? atau karena kita sombong? kita merasa, kita punya duid banyak, ya suka-suka kita mau make listrik seenaknya a.k.a egois?

Jangan jadi orang sombong dan egois.

Mengutip status Cerita Sunken Court. “Ga usah ngeluh banjir kalo buang sampah masih sembarangan, ga usah ngeluh macet kalo ke kampus yang jaraknya deket masih menggunakan kendaraan”.

Nah mungkin sekarang saya tambahin

“Ga usah ngeluh kalo ada pemadaman bergilir, kalo kita sendiri ga pernah berhemat listrik!!!!!”

Lakukan dari hal yang kecil, dari diri sendiri, dan SAAT INI!!!!

Save Our eLectricity!

Penting: Ini opini pribadi, kalo ada yang salah atau ada yang menyanggah, tolong dikoreksi. Terima kasih

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s