Untuk Sementara, Saya Tidak Memiliki Massa, Jabatan, Uang, Kekuatan Untuk Melakukan Perubahan. Yang Saya Bisa Lakukan Sekarang Hanyalah Menyebarkan Ide dan Pemikiran

Tujuan Hidup Yang Terlupakan

Assalamualaikum Wr.Wb.

Pada postingan kali ini, saya akan berbagi pengalaman saya mencari dan memahami hidup/jati diri. Perlu ditekankan isi dari tulisan ini merupakan pengalaman saya, Jadi jangan terlalu terpaku dengan tulisan ini karena mungkin kita memiliki pengalaman yang berbeda. Please Enjoy.

Setiap manusia yang dilahirkan ke dunia oleh Allah SWT pasti memiliki tujuan tertentu, dan tentu saja manusia tersebut tidak bisa mengetahui tujuan tersebut dari awal dia dilahirkan. Untuk memahami tujuan hidup atau jati dirinya diperlukan banyak proses pembelajaran.

Proses pencarian jati diri ini merupakan proses menuju gerbang kedewasaan. Apa itu dewasa? Berdasarkan definisi umum, seseorang dikatakan dewasa jika dia sudah bisa membedakan mana yang baik dan mana yang buruk. Bukan berarti anak kecil yang sudah tau narkoba tidak baik untuk dilakukan itu sudah bisa dibilang dewasa, pengertian yang lebih detil adalah bisa membedakan mana yang baik dan buruk bagi kehidupannya kelak. Jadi keputusan yang diambilnya sudah mempertimbangkan apa pengaruhnya untuk kedepannya (jangka panjang).

Back to the topic,

Berdasarkan kehidupan yang sudah saya alami selama 22 tahun, proses mencari jati diri secara serius ini dimulai ketika saat menjelang kelulusan SMA. Dimana saat itu, saya harus segera menentukan jalan hidup yang saya ambil. Apakah bisnis? Melanjutkan studi? Atau langsung kerja?. Alhamdulillah bapak saya sanggup untuk membiayai saya untuk melanjutkan ke jenjang S1 (tidak semua orang memiliki kesempatan seperti saya).

Bapak saya menawarkan saya untuk menjadi Arsitek seperti beliau. Tetapi saya menolak, dengan alasan sederhana: Bapak dan Kakak saya Arsitek, saya tidak mau terbatasi oleh dunia ke Arsitekturan saja, saya mau berbeda, saya mau menyentuh dunia yang lain. Tetapi karena minimnya informasi (wawasan saya dan keluarga tentang keprofesian terbatas), akhirnya saya ditawarkan untuk masuk jurusan yang berbeda namun dekat dengan dunia kearsitekturan yaitu Teknik Sipil. Saat itu saya setuju untuk masuk ke jurusan Teknik Sipil.

Tetapi dikarenakan saya yang sebenarnya belum memiliki pendirian yang kuat, akhirnya saya kalah oleh “naluri kompetisi” saya. Saya memilih fakultas yang passing gradenya paling tinggi di universitas yang katanya terbaik pada saat itu sebagai pilihan pertama (STEI ITB) sedangkan Teknik Sipil (FTSL ITB) sebagai pilihan kedua. Motifnya sederhana, saya ingin tahu apakah saya bisa meraih yang terbaik seperti yang selama ini saya lakukan (SMP, SMA).

Akhirnya pengumuman keluar, dan ternyata saya berhasil diterima di STEI ITB. Terjadi dilema, antara senang saya berhasil mendapatkan yang terbaik, dan bingung karena saya sama sekali tidak tau apa-apa tentang jurusan teknik elektro dan informatika ini. But life goes on, akhirnya dengan mantap saya jalani dunia perkuliahan. Alhamdulillah saya ternyata bisa mengikuti perkuliahan dengan lancar. Tidak terlalu baik, dan tidak terlalu buruk, yang sedang-sedang saja.
Selama masa perkuliahan ini, muncul pertanyaan. Apa yang akan saya lakukan ke depannya? Apa yang saya bisa lakukan dengan keprofesian saya ini? Karena saat itu saya belum memiliki bayangan apa tujuan hidup dan apa yang saya kejar.

Suatu hari saya pernah mengikuti pelatihan motivasi. Saat itu motivator menekankan bahwa kalau kita tidak memiliki tujuan hidup, kita tidak akan sukses karena tidak memiliki motivasi untuk mengejar tujuan tersebut. Saya setengah setuju dan tidak setuju. Setuju karena menurut saya memang benar kita harus memiliki tujuan hidup. Tidak setuju karena pada saat itu sang motivator “menjudge” jika masih ada mahasiswa yang belum memiliki tujuan hidup di ruangan itu, maka tidak akan sukses. Saya adalah salah satunya.

Menurut saya tujuan hidup itu tidak sesederhana dengan cita-cita waktu kecil. Karena cita-cita waktu kecil itu disebabkan kepolosan anak kecil. Anak kecil yang kagum dengan polisi bisa memiliki cita-cita menjadi polisi tanpa mengetahui dunia tentang kepolisian seperti apa.

Dasar pemikiran saya adalah kasus seperti ini:
Ada kemungkinan orang yang memiliki cita-cita dari kecil kemudian mengejar cita-citanya. Seiring berjalannya waktu, ia semakin memahami dan sadar bahwa dunia dari cita-cita yang ia kejar tidak cocok untuk dirinya, dan akhirnya ia justru menemukan potensinya di bidang yang lain.

Jadi menurut saya tujuan hidup diperoleh dengan proses yang panjang. Seiring bertambahnya wawasan, pandangan kita akan semakin luas dan kita baru bisa memutuskan dan memilih tujuan hidup kita. Oleh karena itu, saya tidak perlu panik. Saya yakin suatu saat nanti saya dapat menemukan tujuan hidup saya.

Seperti pada postingan sebelumnya, saya akhirnya mendapatkan inspirasi. Saya yang sebelumnya apatis tersadar bahwa Indonesia memiliki banyak masalah. Saya berpikir harus ada yang menjadi solusi, tapi siapa?. Disitu saya berpikir… Jika semua orang apatis dan tidak peduli, lalu siapa lagi yang bisa merubah keadaan ini? Dengan berbagai macam pertimbangan dan memahami potensi diri (potensi kecerdasan, kekuatan, posisi, dll), mau tidak mau saya harus menjadi solusi. Kalau bukan saya, siapa lagi? Kalau bukan kita, siapa lagi? Itulah yang selalu berada di dalam otak saya.

Tetapi tujuan ini masih abstrak, apa yang harus saya lakukan untuk menjadi solusi?, Bagaimana caranya?. Masalah di Indonesia sangat banyak, tentu saya yang manusia biasa tidak bisa menjadi solusi untuk semua masalah. Dengan pertimbangan keprofesian, saat itu saya akhirnya menentukan jalan saya, yaitu menjaga kelistrikkan di Indonesia agar terus menyala dan semua rakyatnya dapat menikmati aliran listrik. Mungkin hal itu bisa saya lakukan dengan bekerja di PLN.

Selain hal tersebut, saya menyadari saya tidak bisa sendirian, saya harus mencari orang lain. Banyak teman saya yang sebenarnya memiliki potensi untuk membuat perubahan tetapi belum memikirkan ke arah tersebut. Oleh karena itu saya harus mencari cara untuk menyadarkan mereka, bagaimana caranya? Alhamdulillah Allah telah menunjukkan jalan kepada saya, menjadi Mentri Pengabdian Masyarakat. Disini saya berusaha keras untuk menyadarkan teman-teman saya bahwa mereka memiliki potensi untuk melakukan sesuatu. Melakukan hal yang bermanfaat untuk banyak orang, dengan terjun langsung bersentuhan dengan masyarakat.

Disini saya kembali mendapatkan inspirasi dari seorang tokoh Sociopreneur Ibu Tri Mumpuni. Ternyata saya tidak harus bekerja di PLN untuk menjadi solusi, menjadi pengusaha yang bergerak di bidang sosial seperti beliau juga bisa untuk menjadi solusi! Hal ini kemudian merubah pandangan saya yang sempit. Untuk mejadi solusi bagi masyarakat tidak harus bekerja di Pemerintahan atau BUMN, semua jalan yang kita ambil bisa bermanfaat jika memang kita berniat untuk itu.

Menjelang akhir kelulusan, saya mengalami banyak kejadian penting. Salah satunya bertemu dengan Pak Endang yang menyadarkan saya pentingnya untuk memperdalam Islam. Seiring dengan berjalan waktu, saya pun menyadari hal yang hilang selama ini dari pemahaman saya mengenai tujuan hidup.

Selama ini tujuan saya yaitu untuk menjadi solusi bangsa, berguna untuk masyarakat. Tapi untuk apa saya melakukan itu? Apakah atas nama Nasionalisme? Atau ambisi pribadi? Atau memang saya yang aneh? Akhirnya saya menyadari tujuan hidup saya yang sangat fundamental sebagai manusia setelah merenung.

“Tuhan menurunkan kita semua ke dunia untuk beribadah kepadanya. “

Jadi apa yang selama ini saya lakukan, alasan utamanya bukanlah Nasionalisme, tapi karena Allah SWT.

Penting untuk dipahami bahwa ibadah disini bukan dalam konteks sempit seperti Shalat, Puasa, Zakat, Haji saja. Bekerja, menjadi profesional, menjadi peneliti, guru, berdagang, dll juga merupakan ibadah jika diniatkan karena Allah SWT. Jadi jangan diartikan, yaudah kalo gitu kita jadi ustad aja, belajar Islam, sholat, ngaji, puasa, zakat aja ga usah susah-susah kerja, ga usah jadi peneliti, ga usah jadi pengusaha. It’s totally a wrong concept

Jadi saya udah nulis panjang lebar kemana-mana cuma pengen mengingatkan sekali lagi:

“Tujuan hidup manusia yang paling fundamental adalah untuk beribadah kepada Sang Pencipta”

Kenapa sih saya nulis panjang lebar kemana-mana? Karena dalam proses mencari tujuan hidup, terkadang kita udah mikir tujuan hidup kemana-mana tapi lupa sama tujuan hidup yang paling dasar tersebut sama seperti yang saya alami. Alhamdulillah belum terlambat bagi saya untuk sadar dan semoga belum terlambat juga buat temen-temen.

Jadi sampai saat ini pandangan saya mengenai tujuan hidup adalah:

1. Tujuan hidup/Jati Diri Manusia yang paling fundamental adalah untuk beribadah kepada Allah SWT. Semua yang kita lakukan dalam dunia ini karena Allah SWT.

2. Jangan hidup seperti buih di lautan. Manusia harus punya tujuan hidup meskipun akan berubah seiring berjalannya waktu. Buat yang belum punya ga usah khawatir, insyaAllah nanti akan ditunjukkan jalan jika kita berusaha.

3. Untuk tujuan hidup seperti karir, jangan terlalu kaku. God works in mysterious ways. Sangat penting dan harus jika memiliki tujuan hidup yang jelas dan mengejarnya, tapi perlu diingat terkadang Tuhan berkehendak lain. Jika tercapai maka bersyukurlah, tetapi jika tidak maka ikhlaslah. Kita harus yakin bahwa Tuhan selalu memberikan jalan yang terbaik.

Sampai sekarang untuk tujuan hidup detil, saya sendiri masih belum jelas karena terlalu banyak opsi. Tapi, berdasarkan pengalaman yang saya ceritakan terdapat titik-titik yang bisa dihubungkan: Pengabdian Masyarakat, Listrik, Pengusaha.Jadi mungkin saya mau menjadi Sociopreneur seperti ibu Tri Mumpuni. Tetapi sekali lagi, tujuan hidup akan selalu berubah, siapa tau kelak saya bisa jadi Menteri Energi atau bahkan Presiden RI. Yang jelas hidup saya untuk beribadah dan saya percaya bahwa Allah SWT akan menunjukkan jalan yang terbaik.

Sekian celotehan panjang saya mengenai tujuan hidup, Maaf kalau kepanjangan dan ceritanya kemana-mana.

Terima kasih dan semoga bermanfaat.

Wassalamualaikum Wr.Wb.

10 responses

  1. Pambudi

    mantabs broh. sometimes life works in mysterious ways. Kadang2 titik2 kehidupan yang dibuat bisa terjalin tanpa disangka selama passion masih ada. SUkses broh! keep writing!

    March 29, 2012 at 11:48 am

  2. tujuan hidup yang paling utama Adalah untuk beribadah kepada Allah SWT. lalu menurut anda bagaimana dengan tujuan hidup ‘membahagiakan kedua orang tua”, sementara apa yang selama ini menjadi tujuan hidup kita sangat bertolak belakang dengan keinginan mereka?. dan keduanya merupakan hal yang baik untuk dijadikan tujuan hidup.🙂

    April 10, 2012 at 7:44 pm

    • Mas Agil

      Assalamualaikum

      Terima kasih atas pertanyaannya. sangat bagus sekali dan saya akan mencoba untuk menjawab.

      Intinya seperti ini,

      bagaimanapun tujuan hidup kita yang utama adalah untuk beribadah kepada Allah SWT.

      lalu ibadah yg seperti apa?

      tentu bukan hny sekedar menjalanlan syariat seperti shalat, zakat, puasa saja.

      Tapi ibadah sgt luas : “Melaksanakan apa yg diperintah dan menjauhi larangan-Nya”

      Membahagiakan orang tua tentu merupakan perintah-Nya. Tp yg mindset yg perlu ditanamkan adalah, membahagiakan orang tua bukan tujuan utama hidup kita.

      Yang utamanya tetap:

      Kita membahagiakan orang tua karena Allah SWT.

      Akan tetapi terkadang kita mengalami selisih paham dengan orang tua kita mengenai keputusan yg kt ambil. Pdhl menurut kita jalan tsb sdh bnr dan hrs dipertahankan.

      disisi lain kt diperintahkan utk membahagiakan org tua jd sprt terjadi kontradiksi.

      Mengambil jln yg menurut kt benar tp tdk membahagiakan org tua, atau membahagiakan org tua tp kt merelakan jalan yg menurut kt benar.

      Disini kt hrs bijak dan berpikir lbh dalam.

      Yakinkah kt dgn jln kt? apakah niatny sdh benar? Apakah krn Allah? atau nafsu sesaat?

      Jika kt sdh yakin dan mantap. Mk yg kt hrs lakukan adlh meyakinkan org tua bahwa jalan yg kt ambil ini baik dan benar.

      Jika memang sdh tdk bs dgn perkataan. Tetaplah berpegang dengan jalan yg sdh diputuskan dgn sebisa mngkn tnp menyakiti perasaan org tua.

      Lalu buktikan bahwa jln yg diambil benar. Sambil berdoa orang tua dapat mengerti dengan keputusan yg kt ambil.

      Logikany: Kalo orang tua juga sdh mengerti bahwa hidup karena Allah SWT, apapun jalan yg diambil anakny selama tdk menyimpang pasti direstui.

      Jd demikianlah jawaban saya. Maaf kalau ada salah, kebenaran hanya dari Allah SWT.

      Wassalamualaikum

      April 11, 2012 at 12:12 pm

      • ayati

        saya sependapat dgn anda.

        January 4, 2013 at 1:09 am

  3. mina

    islam itu indah , , tetap semangat , ,

    baca tulisan anda bikin saya semangat lagi untuk teguh dalam beribadah kepada-Nya . .

    May 26, 2012 at 1:24 am

  4. eko

    sangat menginspirasi bro….mudah”an cita” anda tercapai..amiin..

    October 21, 2013 at 1:21 am

  5. Assalamualaikum wr.wb.

    Sebelumnya terimakasih banyak, mas Agil atas tulisannya yg satu ini.

    Awalnya saya nyasar ke blog ini itu gara2 bingung masalah kerjaan. Bingung karena gaktau apa2 soal Oil & Gas, tapi pengen kerja di oil & gas company. Trus googling ketemu di postingan mas Agil: Salah Jurusan Teknik Perminyakan. Maklum “calon pengangguran”.

    Jujur saya mengalami beberapa hal seperti yang dialami mas Agil; belum menemukan tujuan hidup. Padahal saya sudah diujung tanduk masa mahasiswa saya. Tapi saya malah bingung apa selanjutnya yang harus saya lakukan setelah lulus.

    Saya mengerti apa yang sukai, tapi saya ragu apabila saya jalani hal yang saya sukai tersebut, tidak akan mensejahterakan saya secara finansial. Ragu saya berubah menjadi takut ketika mengetahui orang tua saya sudah mulai pensiun dan saya adalah anak pertama. Apa yg bisa saya berikan untuk mereka? Maka dari itu saya mulai ber-mindset; kerja apapun yang ‘gajinya besar’!

    Saya punya banyak mimpi yang sudah saya pendam selama 4 tahun kuliah. Namun semua itu semakin kesini malah semakin pudar. Kenyataan-kenyataan yang ada membuat idealisme pada mimpi saya semakin memudar.

    Sampai saya baca tulisan mas Agil yang satu ini. Tentang tujuan hidup manusia yang paling mendasar, yang paling fundamental. It really strikes my mind. Sekejap mengacaukan pemikiran saya, namun memberikan petunjuk di tengah kebimbangan saya ini.

    Anyway, terimakasih banyak mas Agil atas tulisannya sekali lagi. Maaf kalau agak gak jelas komentarnya. Keep sharing your thoughts!

    November 30, 2013 at 3:41 pm

    • Mas Agil

      Sepertinya kita orang yang setipe hehe. I know your feeling bro🙂

      Tetap pertahankan idealisme ente, mungkin memang sekarang kita belum bisa melakukan apa yang kita inginkan, tapi tetep pertahankan mimpi kita bro. Sekarang yang penting kita survive dulu, memapankan diri dan keluarga, ketika kita udah merdeka secara finansial, baru kita lakukan apa yang mau kita lakukan bro! Mimpi boleh tertunda, tapi pada saatnya mari kita wujudkan mimpi kita bersama hehe🙂.

      Semangat Bro!!!!! see you in the future! Jangan lupa berdoa sama Allah biar mimpi kita terwujud🙂

      Regards,
      Dimas Agil Triatmojo

      December 1, 2013 at 1:43 pm

  6. dedeerland

    aslkm mas..setuju sm mas Agil..
    tp selain beribadah utk diri sendiri,alangkah baik nd indahny jika kita bisa “Memanusiakan Manusia” toh?
    memandang kita semua sama di hadapan-Nya nd tolong menolong dlm kebaikan..hal smcm ini yg mulai hilang mas..kbnykn dr kita hnya mnghrgai yg pnya tahta nd harta sj..klw org kecil atw pngemis kita biasa pandang nd prlakukan stngah hati..:(

    December 24, 2013 at 2:59 pm

    • Mas Agil

      Betul mas dede, selain kita menjaga hubungan baik dengan Allah SWT, kita juga diwajibkan untuk saling menyayangi sesama manusia🙂. Tapi tetep, semua itu bertujuan hanya karena Allah SWT🙂

      January 19, 2014 at 1:30 pm

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s