Untuk Sementara, Saya Tidak Memiliki Massa, Jabatan, Uang, Kekuatan Untuk Melakukan Perubahan. Yang Saya Bisa Lakukan Sekarang Hanyalah Menyebarkan Ide dan Pemikiran

Sikap Saya Terhadap Kenaikan BBM

Assalamualaikum Wr.Wb.

Seperti yang kita ketahui, Indonesia lagi “panas” tentang isu kenaikan BBM. Bagaimana sikap kita? Bagaimana sikap saya? Supaya adil, saya akan mencoba objektif menjelaskan dari beberapa sudut pandang untuk dianalisis kemudian disimpulkan.

“Berpikir objektif sangat penting untuk pengambilan sikap yang tepat. Dinginkan kepala, lalu berpikir.”

1. Sudut Pandang Pemerintah

Alasan pemerintah adalah untuk menyelamatkan negara dari anggaran yang membengkak. Hal ini disebabkan karena harga minyak dunia naik sehingga beban subsidi BBM akan bertambah besar. Mau tidak mau harga harus naik!

2. Sudut Pandang Pengusaha

BBM naik menyebabkan biaya operasional naik. Hal ini bisa dicover dengan naikin harga barang yang diproduksi.

3. Sudut Pandang Akademisi

BBM naik menyebabkan harga barang naik. Rakyat makin susah. Tolak!

4. Sudut Pandang Masyarakat

Pasrah, cuma bisa terima.

5. Sudut Pandang Parpol Oposisi

BBM naik, rakyat merasa susah! Ayo tolak rame-rame! Sekalian kesempatan ngejatuhin image parpol yang berkuasa sekarang.

Sekarang masuk ke analisis. (ini analisis pribadi ya).

Benarkah sudut pandang pemerintah?

Adalah hal yang benar kalo harga minyak dunia naik, maka subsidi BBM akan bertambah. Ada yang ga setuju, katanya harga minyak jangan ngikutin harga minyak dunia. Penjelasannya simpel, Indonesia belum bisa memenuhi kebutuhan minyaknya sendiri. Masih harus impor makanya harga BBM kita masih bergantung sama harga minyak dunia.

Lalu muncul analisis ekonom Pak Kwik yang menjelaskan bahwa harga minyak naik, pemerintah masih untung, jadi ga perlu naik. Liat link berikut.

Hal ini memang benar kalo dilihat dari satu sisi saja. Secara ekonomi memang dari hasil jual beli BBM meskipun pemerintah memberikan subsidi Pertamina tetap memberikan keuntungan! Lantas kenapa harus naik?

Disini saya menjelaskan alasan yang paling tepat kenapa BBM harus naik. “Meningkatkan Efisiensi Anggaran”. Seperti yang kita ketahui, subsidi BBM ini banyak yang salah sasaran. Mau sampel?

Entah udah berapa banyak BBM subsidi yang habis kebakar karena macet. Habis kebakar buat lomba balapan liar. Habis kebakar cuma karena gengsi mau ke kampus pake mobil, dan banyak contoh lainnya. Apakah tepat sasaran?

Jadi subsidi BBM yang berhasil dihemat bisa digunakan untuk pembangunan infrastruktur, pendidikan, dan kesehatan buat masyarakat miskin yang jelas lebih tepat sasaran. Orang pemerintah yang pintar menjelaskan hal ini.

Tapi apakah berarti pemerintah benar? Tidak seluruhnya! Ada celahnya. Benar bahwa peningkatan efisiensi anggaran bisa dilakukan dengan mengurangi subsidi BBM yang salah sasaran, tetapi peningkatan efisiensi juga harus dilakukan di bidang yang lain!

FYI salah satu penyebab APBN membengkak adalah reformasi birokrasi, dimana gaji PNS dinaikkan dengan tujuan mengurangi korupsi dan meningkatkan performa kinerja pemerintah. Hasilnya? Fail! Gaji naik tapi korupsi jalan terus! Pemerintah juga keliatan ga ada upaya serius buat memerangi korupsi bahkan KPK mau dikebiri lagi sama DPR tercinta. Belum lagi isu Banggar DPR yang boros! Renovasi ruang rapat dan toilet yang menghabiskan uang milyaran, dan banyak kasus lainnya.

Jadi sampai disini kesannya, peningkatan efisiensi anggaran dibebankan sama masyarakat aja. Kita disuruh bayar BBM lebih mahal, tapi pemerintah masih korup! Ga meningkatkan efisiensi birokrasi yang justru penghematannya bisa jadi lebih besar daripada menaikkan harga BBM.

Inilah yang menyebabkan penolakan dari orang-orang yang cerdas. Mereka tidak percaya bahwa pemerintah dapat menggunakan subsidi yang berhasil dihemat dengan bijak. “Paling dikorupsi lagi”, kata teman saya. Selain itu solusi yang ditawarkan adalah Bantuan Langsung Sementara Masyarakat. Selain rawan diselewengkan oleh oknum tidak bertanggung jawab, ini merupakan solusi sementara aja buat manjangin umur masyarakat miskin.

Disini saya sudah bisa menentukan sikap.

Saya menolak kenaikan BBM di pemerintahan ini! Karena saya tidak percaya pemerintah mampu menggunakan subsidi yang dihemat dengan bijak. Alasannya? Korupsi masi merajalela, birokrasi ga efisien, kinerja eksekutif rendah, legislatif juga sama aja.

Tapi penting untuk diingat, sebenarnya BBM naik ini tidak menyengsarakan rakyat kecil jika digunakan dengan benar. Masyarakat miskin jika diberikan pilihan antara subsidi BBM atau pendidikan dan kesehatan berkualitas gratis?, Tentu cuma masyarakat miskin yang punya mobil dan motor saja yang milih subsidi BBM (eh itu bukan masyarakat miskin ya?)

Sikap saya sendiri terhadap demo sebenarnya setuju, tapi ada beberapa catatan. Saya setuju kalau alasan pendemo karena ketidakpercayaan terhadap pemerintah untuk menggunakan dana subsidi yang berhasil dihemat dengan bijak, bukan karena penolakan BBM naik semata.

Kenapa ini penting? Karena seperti yang
saya jelaskan, kenaikan BBM sebenarnya menguntungkan rakyat kecil (yang dirugikan paling rakyat middle class seperti saya. miskin engga, kaya juga engga) jika digunakan dengan tepat (Pendidikan/Kesehatan gratis). Yang saya takutkan adalah stereotype bahwa kenaikan BBM ini adalah merugikan masyarakat kecil. Apalagi ada parpol yang gencar-gencarnya demo dengan mencap “BBM naik, masyarakat susah”.

Efeknya apa? Takutnya suatu hari nanti ketika muncul pemerintahan yang memang bisa dipercaya menaikkan harga BBM dengan tujuan baik, kita melakukan resistansi karena stereotype “BBM naik masyarakat susah” tersebut. Saya sendiri jika jadi presiden akan melakukan kenaikan BBM dengan tujuan meningkatkan efisiensi anggaran. Selain itu kenaikan BBM ini juga positif secara sistemik.

Masyarakat akan dipaksa untuk hemat dan efisien dalam menggunakan energi, subsidi yang dihemat dapat digunakan untuk membuat infrastruktur yang meningkatkan efisiensi juga seperti transportasi massal dan lain-lain.

Jadi kesimpulannya, kenaikkan BBM ini sebenarnya positif, tapi pemerintah yang ga bisa dipercaya yang terpaksa bikin kita harus nolak!

Lalu apa yang harus dilakukan? Demonstrasi itu pilihan, the sad truth is, demonstrasi tidak akan berpengaruh banyak kepada pemerintah yang memang ga mendengarkan rakyat. Jadi siap-siap aja menerima keputusan BBM tetap naik.

Lalu tindakan konkrit apa yang bisa dilakukan kalau BBM naik?

Sebelumnya saya harus kasi tau kenyataan pahit, kita harus mengakui kalau kita ini boros, admit it.

Jadi kondisi sekarang ini:

Pemerintahan korup, rakyatnya boros (sepadan ya?)

Jadi kalau mau konkrit, mulai hidup berhemat! Lebih produktif! Kerja lebih keras!

Bagaimana dengan pemerintah? Sukur-sukur kalo pada tobat (ga mungkin). Tapi gausah dipeduliin!, dengan kita hidup hemat dan bersusah payah dalam hidup, maka secara otomatis kita akan memahami pentingnya mempelajari dunia politik, sosial, dan hukum. Kita akan dan harus memahami pentingnya pemilu Presiden! Yang menentukan nasib seluruh bangsa 5 tahun ke depannya. Tentu kita akan lebih kritis dan hati-hati memilih presiden berikutnya.

Dan insyaAllah ketika kita udah berhasil lebih hemat dan produktif, lalu presiden yang terpilih pada 2014 benar-benar orang yang membela rakyat. Tentu perubahan Indonesia yang lebih baik akan lebih mudah karena:

Pemerintahannya bersih dan efisien, rakyatnya hemat dan produktif!

Ini tindakan paling konkrit dan bisa banget untuk dilakukan, jadi tunggu apalagi!.

Selain itu, ini memaksa kita untuk lebih mencari dan memakai energi alternatif yang lebih murah! Pokonya yang penting kita harus mikir yang positif terus!

Sekian sikap saya mengenai kenaikan BBM. Mohon maaf jika ada kesalahan. Silahkan bertanya jika ada yang perlu dijelaskan lebih detil.

Semoga bermanfaat,

Wassalamualaikum Wr.Wb

4 responses

  1. rina

    Mantab dek.. Correct!!!

    March 28, 2012 at 10:20 pm

  2. sigma

    masbro, kalo menurut ane. tulisan pak kwik ataupun mbak rieke itu intinya bukan di keuntungan yg dikasih sektor migas terhadap apbn. tapi lebih kepada fakta kalau kata ‘subsidi’ itu adalah kotoran sapi (baca : omong kosong). itu memang entry untuk meng-counter alasan dpr menaikkan harga, yang sampai sekarang belom dijawab/diacuhkan. tapi lebih jauh lagi, esensinya, kita rakyat jangan mau dibegoin lagi dengan kata ‘subsidi’. gitu menurut ane hehe.

    March 29, 2012 at 11:49 am

    • Mas Agil

      Terima kasih banyak Bung Sigma.

      Jadi mungkin saya akan klarifikasi lebih detil tentang “subsidi” BBM yg bullshit ini.

      Thanks

      March 29, 2012 at 12:42 pm

  3. yekti

    setujuuu !

    December 25, 2012 at 10:52 pm

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s