Untuk Sementara, Saya Tidak Memiliki Massa, Jabatan, Uang, Kekuatan Untuk Melakukan Perubahan. Yang Saya Bisa Lakukan Sekarang Hanyalah Menyebarkan Ide dan Pemikiran

Expectation vs Reality

Assalamualaikum Wr.Wb.

Mungkin temen-temen ada yang pernah nonton (500) days of summer? Ada scene menarik dimana layar dibagi dua menjadi expectation dan reality. Expectation adalah scenario yang ada di bayangan si Tom Hansen ketika dia bertemu kembali dengan Summer dimana semuanya berjalan dengan lancar, baik, indah, happy ending dan sesuai dengan yang diharapkan. Sebaliknya, reality adalah kejadian nyata yang terjadi dimana semuanya berbeda 180 derajat dari yang diharapkan Tom Hansen, it’s painful, sad, bad ending.

Image

Scene tersebut memberikan gambaran kepada kita bahwa di dunia nyata, ga semua yang kita harapkan atau mimpikan itu akan tercapai dan bisa dibilang hal tersebut merupakan definisi dari “kegagalan”. It’s just how it works, ga ada yang bisa kita lakukan, we’ve got to deal with it, it’s normal. Semua hal baik mengenai karir, pendidikan, asmara, bisnis, dll, pasti kita akan merasakan kegagalan dimana harapan kita tidak sesuai dengan apa yang terjadi sebenarnya.

Sebenarnya, saya sendiri baru mengenal kegagalan ini saat di dunia perkuliahan.

Pada awalnya, hidup saya berjalan dengan lancar dan baik-baik saja. Semuanya berjalan sesuai dengan rencana, semua yang saya inginkan dan harapkan terwujud. Mulai dari SD, saya ingin masuk ke SMP terbaik dan saya berhasil. Saat SMP saya ingin masuk ke SMA terbaik, saya pun lolos. Saat SMA saya ingin masuk ke universitas terbaik, dan Alhamdulillah Allah mengabulkan keinginan saya. Semua keberhasilan ini secara tidak langsung membuat saya menjadi arogan. Saya tidak pernah menemui kegagalan, saya optimis dan percaya diri apapun bisa saya raih.

*Tapi sebenarnya, pasti saya pernah mengalami kegagalan-kegagalan minor, namun karena bukan masalah yang signifikan, it’s not a big deal and I don’t consider it as a failure.

Dan pada masa kuliah inilah banyak ekspektasi dan harapan saya yang tidak sesuai dengan realita.

Saya sebenarnya sangat ingin lulus Cum Laude, dan saya gagal

Saya sebenarnya hanya ingin menjalin hubungan dengan satu orang saja dan menikahinya (pertama dan terakhir), dan saya gagal. Saya mencoba lagi, dan saya gagal lagi. Lalu saya mencoba untuk terakhir kalinya, dan saya kembali gagal.

Setelah lulus, saya sangat ingin mengikuti program Indonesia mengajar, I failed. Lalu saya mengejar opsi lain yaitu ingin berkontribusi melalui bekerja di salah satu BUMN, and I failed again.

Pada akhirnya, saya berakhir bekerja di perusahaan swasta asing. Salah satu hal yang sama sekali tidak pernah ada di dalam rencana saya, salah satu hal yang sangat amat saya benci dan saya hindari. Saya menjilat ludah saya sendiri and I consider it as one of my biggest failures in my life.

Hal yang paling menyebalkan ketika ekspektasi tidak bertemu dengan realita tersebut adalah “it sucks, it just sucks”. Kita akan merasa kecewa, down, tidak bersemangat, patah arang, putus asa… Semua kegagalan tersebut menghantam saya bertubi-tubi, dan pukulan terakhir membuat saya K.O.

Saya yang dulunya optimis dan percaya diri berubah menjadi pesimis, minder, dan takut. Bisakah saya meraih cita-cita saya? Bisakah saya meraih keberhasilan dalam hidup saya? *FYI, cita-cita saya sebenernya agak naif, saya pengen banget menjadi orang besar yang membawa perubahan buat Indonesia. Saya marah, saya sedih, saya kecewa, saya sakit hati, saya terluka,…. Cukup lama saya merasa down, kehilangan harapan, dan mulai berpikir untuk menghapus dan melupakan cita-cita saya.

Tapi apakah itu hal yang benar? Am I that weak?

Saya berpikir, merenung, introspeksi, menganalisis, apa sih yang sebenarnya terjadi? Apa yang salah? Apa yang harus saya lakukan supaya sebisa mungkin tidak mengalami kegagalan kembali?

Ada beberapa analisis umum singkat mengenai kegagalan (versi saya):

1. Kegagalan itu normal

Dunia tidak pernah ideal, tidak ada yang 100% akurat. Bisa dibilang semua hal itu mengenai kemungkinan (probabilistic). Semua hal bisa terjadi, termasuk kegagalan. However, dengan usaha kita, kita bisa meningkatkan kemungkinan tersebut sehingga peluang kita untuk meraih keberhasilan meningkat.

Contoh : Masuk ke universitas. Ambil contoh 100000 orang melamar ke universitas yang sama yang hanya menerima 500 orang. Peluang masuk sekitar 500/100000. Namun setiap universitas punya standard dan ga semua orang memenuhi standar tersebut, asumsikan yang memenuhi hanya 1000. Maka kita harus belajar sehingga kita bisa menjadi salah satu dari ribuan orang saja yang memenuhi standar, sehingga peluang kita menjadi lebih besar untuk diterima (500/1000). Got my point??

2. Faktor kegagalan

Faktor internal : Faktor yang bisa kita kontrol

Faktor eksternal : Faktor yang tidak bisa kita kontrol

Contoh :

–          Kegagalan saya pada saat meraih Cum Laude.

Faktor Eksternal : Kegiatan tambahan di luar akademis, sibuk, menghabiskan stamina, dan waktu

Faktor Internal :  Ketidakmampuan saya dalam manajemen waktu. Waktu luang saya gunakan untuk beristirahat dan bermain (stress karena factor eksternal). Kurang belajar -> akademis turun

Solusi : Memperbaiki manajemen waktu atau mengurangi waktu kegiatan tambahan atau keduanya

–          Kegagalan saya mendapatkan pekerjaan yang diinginkan

Faktor Eksternal : I don’t own the company, semua hal bisa terjadi

Faktor Internal : Kurang persiapan dalam menghadapi tes seleksi. Lengah, terlalu confident, jumawa

Solusi : Sadar bahwa beberapa hal tidak bisa kita control, oleh karena itu persiapan harus ekstra matang. Optimis dan percaya diri boleh, tapi jangan sampai lengah.

3. Efek Kegagalan (rasa kecewa, sedih, sakit hati, etc)

Efek kegagalan semakin besar ketika realita sangat jauh dari ekspektasi, atau kalau dibuat menjadi formula:

Ekspektasi vs Reality

Ketika ekspektasi = realita, maka efek kegagalan = 0. Kita mendapatkan apa yang kita inginkan, semua berjalan sesuai dengan rencana.

Ketika ekspektasi > realita, maka efek kegagalan > 0. Semakin besar ekspektasi dibandingkan realita, you will hurt more. No pain, no gain. Resiko untuk meraih keuntungan yang besar adalah kerugian yang besar. Jika kita memiliki cita-cita yang besar, bersiaplah untuk babak belur.

Ketika ekspektasi < realita, maka efek kegagalan < 0. Kita tidak sedih, melainkan berbahagia, ternyata realita melebihi ekspektasi. Dunia ternyata lebih indah. Makanya orang bilang, lower your expectation and you will not hurt.

However, bukan berarti kita harus memperkecil ekspektasi kita. Semakin kecil ekspektasi, maka usaha kita untuk meraih tujuan akan berkurang. Padahal bisa jadi kemampuan kita lebih dari itu. Oleh karena itu set your goal not too high, but not too low. Taruh di titik optimum. Bagaimana caranya? Know yourself and your capability. Boleh optimis tapi realistis😉.

Dari beberapa analisis tersebut terdapat beberapa pelajaran yang bisa saya ambil

  1. I was too naive and arrogant. Tidak pernah gagal bukan berarti selalu akan berhasil. Suatu hari nanti pasti kita akan menemukan kegagalan dan sangat menyesakkan. Kesombongan membuat saya lengah, dan kurang berusaha
  2. I was too confident with my capability. Seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya, ada beberapa hal yang kita tidak bisa kontrol. Percaya diri boleh, tapi jangan meremehkan hal-hal tak terduga bahkan hal terkecil sekalipun. Always be prepared for the worst case and pray. Jangan lupa berdoa memohon pertolongan kepada Allah. Tanpa kehendaknya, usaha kita sia-sia. Selalu bersujud.
  3. I didn’t know my limit and capability, I push myself too hard. Terkadang, kita terlalu keras terhadap diri kita sendiri. Kita menetapkan target yang sangat tinggi, tanpa melihat kapasitas diri kita. Sebagai contoh, cita-cita saya untuk menjadi orang besar yang berpengaruh. Secara probabilitas, peluang saya untuk menjadi orang berpengaruh di Indonesia sebenarnya sangat kecil. Dari dulu saya bukanlah orang yang paling pintar dan berprestasi. Latar belakang saya pun hanya dari golongan menengah, bukan dari keluarga pengusaha, bangsawan, pejabat, jendral, dll. Saya hanya orang biasa seperti pada umumnya. Ayah saya seorang karyawan swasta, ibu saya ibu rumah tangga, dan saya anak laki-laki satu-satunya (I have brother but he died 7 years ago) yang artinya, saya bertanggung jawab menjadi tulang punggung setelah ayah saya pensiun. Setelah dipikir-pikir, saya merasa bodoh punya mimpi sebesar itu hahaha. I feel like an idiot). Intinya sih, saya membebani diri saya dengan ekspektasi yang terlalu tinggi dan ini ga bagus karena saya hanya akan menyakiti diri saya sendiri ketika hal ini tidak tercapai. Dibalik kekuatan besar, terdapat tanggung jawab besar. Kalau kekuatan kita kecil, maka kita tidak harus mengambil tanggung jawab yang melebihi kemampuan kita.

Sampai disini, saya harus mengambil keputusan. Apa yang seharusnya saya lakukan?

Yang jelas menyesal dan bersedih berlama-lama tidak ada gunanya. Saya harus maju terus. Saya harus menerima semua kegagalan ini dengan lapang dada dan menjadikannya pelajaran agar kegagalan yang sama tidak terulang kembali. Saya harus ikhlas menerima keadaan dan harus bersyukur, karena mungkin memang inilah jalan yang terbaik. Pokonya harus berpikir positif, melihat peluang yang ada, gunakan semaksimal mungkin. Kegagalan-kegagalan ini juga menyadarkan saya bahwa usaha kita ini sia-sia tanpa kehendak Allah. Dont be arrogant, keep praying.

Untuk cita-cita saya menjadi orang besar sepertinya harus saya simpan terlebih dahulu. It’s just not realistic yet. Saya harus lebih realistis dan menetapkan target jangka pendek terlebih dahulu. Saya harus mengembangkan kapabilitas saya, hingga saya rasa cukup besar untuk menetapkan target yang lebih tinggi. Dan jika memang saya diberikan kesempatan, bukan tidak mungkin pada akhirnya saya bisa meraih cita-cita saya tersebut (I think the probability is near zero right now).

I’m not destroying my goals, I just prefer not to think about it now, terlalu cepat untuk memikirkan hal tersebut sekarang. I need to do it step by step.

Dan untuk saat ini, saya akan melakukan apa yang saya bisa lakukan sesuai dengan kapabilitas saya. Wish me luck, semoga diri ini bisa bangkit dan menghajar balik kegagalan yang saya alami. I’m waiting for revenge, hehe.

Mohon maaf kalau ada salah-salah kata, namanya juga manusia, dan bahkan saya gatau apa yang saya tulis, hanya racauan malam hari saja😀.

Wassalamualaikum Wr. Wb.

11 responses

  1. rina

    Alhamdulillah, udah sadar

    September 12, 2013 at 5:49 am

    • Mas Agil

      Jahat banget komennya sih mbak, ckckck.

      September 12, 2013 at 5:50 am

  2. Pambudi

    cemungudh kk

    September 12, 2013 at 8:19 am

    • Mas Agil

      Cemungudhhh Eeaaaaa

      September 12, 2013 at 8:22 am

  3. Jadi, target jangka panjang: menjadi orang besar. Target jangka pendek: meningkatkan kapabilitas, tapi kudu dijabarin ke dalam poin2 yang lebih detail, biar jelas😀
    Ikutan chemungudh kakak ;D

    September 12, 2013 at 11:40 am

    • Mas Agil

      Eh ada Mbak Uno Kartika hehe.

      Target jangka panjangnya disimpen dulu no. Jangan dipikirin sekarang nanti terlalu terbebani🙂.

      Semangat juga kakaaaaaaa!!!

      September 12, 2013 at 12:15 pm

  4. Semangat gil! Tahun pertama lulus kuliah memang tahap paling menyulitkan buat seseorang (menurut gw). Pada akhirnya kt akan makin dewasa dalam pemikiran dan tindakan. Idealisme itu bagus. Itulah yang membedakan orang yang mengecap bangku kuliah dan yang tidak. Tapi jangan jangan terlalu idealis. Seimbangkan dengan realita. Pada akhirnya kita akan menjadi orang-orang yang setidaknya bermanfaat untuk keluarga kecil kita, teman-teman terdekat kita. Benar-benar anugerah Tuhan lah kalo kita bisa sampai menjadi manfaat untuk orang banyak. Keep the dream on however small it is. See you very soon!🙂

    September 12, 2013 at 2:47 pm

    • Mas Agil

      See you very soon too Yoh🙂

      September 12, 2013 at 3:47 pm

  5. Dwi

    Hampir sama dengan kisah hidup saya,tapi saya masih bingung dengan apa yang sebenarnya saya inginkan TT

    October 3, 2013 at 12:55 pm

    • Mas Agil

      Semangat mbak Dwi!!! cepat atau lambat pasti kita akan ketemu apa yang ingin kita capai🙂. Tetep berdoaa😉

      October 6, 2013 at 2:46 pm

  6. mrs chem-eng

    Pas banget sama yg sdg dialami ——> Kegagalan saya mendapatkan pekerjaan yang diinginkan

    Absolutelly true ——–> Kegagalan-kegagalan ini juga menyadarkan saya bahwa usaha kita ini sia-sia tanpa kehendak Allah. Dont be arrogant, keep praying…

    Postingannya cukup memotivasi …. trutama buat org2 yg sedang desperate seperti saya..hehehe

    October 20, 2013 at 11:48 pm

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s